Jumat, 20 Desember 2013

Koran Kompas - Mendunia dulu,lokal kemudian

KOMPAS 17 november 2013

Mendunia dulu,Lokal kemudian

Dari sebuah ruko di Pluit Karang Utara,Jakarta,Tas-tas yang dibuat dari anyaman rotan sintetis itu merambah ke mancanegara. Produk dengan lebel Chameo itu juga sudah bolak balik melenggang disejumlah pekan mode internasional.
Tas anyaman ini murni produk lokal,buatan Yuliana Lim dan 30 pekerja nya. Yuliana ,yang sejak awal memilih Amerika Serikat sebagai pasar pertamanya , memulai usahanya tahun 2008. “saya kurang percaya diri melempar kepasar lokal karena pada waktu itu produk lokal sering kali diremehkan dan dihargai murah” ujarnya.
Bisnis tas ini berawal dari hobby nya membeli dan memakai tas dari serat alam . Namun pengalamanya memakai tas dari serat alam sering meninggalkan kesan tidak menyenangkan,seperti benang serat yang kerap nyangkut dibaju serta anyaman yang kaku dan acap kali mencuat keluar sehingga kerap kali menggores tangan.

Dari rentetan pengalaman itulah Yuliana berkeinginan untuk membuat tas anyaman sendiri dari bahan-bahan yang nyaman dipakai “karena suami saya bergerak dibidang furniture dengan anyaman rotan sintetik,saya pun berkeinginan membuat tas tangan dari bahan yang sama”ujarnya.

Dia mengakui upayanya ini tergolong nekat karena dia tidak memiliki latar belakang pendidikan ataupun keterampilan menjahit dan menganyam. Yuliana memulai usaha dengan mencari tenaga lepas dari kelompok pengrajin anyaman di Yogyakarta tapi gagal”para penjahit dan pembuat anyaman angkat tangan tidak sanggup membuat tas berbahan rotan sintetik yang lebih licin dari rotan alam”ujurnya.

Yuliana pun beralih mencari tenaga kerja di Jakarta. Setelah mendapatkan satu penjahit dan satu penganyam dia pun memakai mesin produksi berupa mesin jahit bekas,mesin jahit khusus untuk menjahit tas. “karena tidak ada satupun yang berpengalaman membuat tas anyaman , akhirnya proses pembuatan tas ini kami pelajari bersama secara otodidak” ujarnya.
Proses belajar ini berlangsung sekitar satu tahun,selama jangka waktu tersebut,jumlah produk gagal sudah tak terhitung.

POSITIF

Setelah berhasil membuat tas anyaman seperti yang diminta Yuliana mencoba menjual produknya ke New Jersey,AS ,melalui perantara istri pelanggan furniture suaminya yang tinggal disana. Volume produk yang dipasok ke Amerika ketika itu hanya sekita 100 tas rata-rata tas dijual 30 dollar AS tak disangka responya posif. Setelah 6 bulan dia kembali menerima permintaan tas . hal ini terus berulang hingga saat ini. Sekitar tahun 2009 setelah pasar dalam negeri dirasa telah cukup kondusif menerima produknya barulah Yuliana melempar produknya untuk konsumsi domestik. Ternyata sambutan dari dalam negeri juga cukup bagus.
Saat ini , Yuliana memproduksi 1000 tas perbulan dan 70 % hasil produksinya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Tingginya permintaan di negeri sendiri membuatnya tidak lagi berkonsentrasi pada permintaan luar negeri yang sebenarnya juga terus meningkat dan berkembang di banyak negara lain.
Chameo telah ikut tampil dalam Japan Fashion Week tahun 2011 , Hongkong Fashion Week tahun 2013 dan ikut dalam ajang pamaran Pret a Porter di Paris ,Perancis ,tahun 2013.Terakhir,model-model terbaru dipajang sebagai tren mode tas tahun 2014 dimajalah fashion Italia,Arpel.

Hingga saat ini Yuliana mengaku terus belajar dengan melakukan inovasi produk. Setelah sebelumnya hanya memakai bahan rotan sintetis,sekarang ini dia mulai memadupadankan dengan aneka kain seperti batik dan songket . Terakhir dia pun mencoba memadukanya dengan kulit Ular. Harga tas Chameo ini berkisar Rp.900.000 hingga 5,2 juta.
Sekalipun sudah bermunculan tas dengan beraneka bahan Yuliana mengatakan akan tetap bertahan memakai bahan baku utama rotan sintetis.
“saya mencintai dan terus mengangkat popularitas anyaman rotan yang merupakan kerajinan tas Indonesia”ujarnya.

Mengulas berita diatas

Dilihat dari judul artikel ini “MENDUNIA DULU,LOKAL KEMUDIAN” mencerminkan seperti apa pasar(masyarakat)di Indonesia. Respon pasar Indonesia kurang baik terhadap produk lokal dan pasar lebih tertarik oleh produk luar . Kenyataanya pasar lebih tertarik jika merek barang tersebut berbau kebarat-baratan.
Memulai suatu usaha dipersangain yang begitu ketat ini bukanlah hal mudah tapi dengan tekat yang kuat dan keberanian akhirnya bisnis tas ini akhirnya laku dipasaran. Pantang menyerah juga merupakan hal yang penting dalam membangun sebuah bisnis,terbukti dari kisah Yuliana ini,dalam jangka waktu setahun sudah tak terhitung lagi jumlah tas yang gagal di produksi tapi Yuliana tidak pantang menyerah dan kegigihanya membuahkan hasil. Tas-tas nya yang dia pasarkan keluar negeri mulai mendapat tanggapan positif.
Awalnya hanya memproduksi 100 tas perbulan dengan harga 30 dollar AS dan berkembang hingga 1000 tas perbulan dengan harga Rp.900.000 sampai 5,2juta. Saat kedaan pasar nasional mulai kondusif Yuliana Lim mulai memasarkan tas nya di dalam negeri dan terbukti kegigihanya berbuah manis,kini Yuliana Lim memiliki pasar didalam dan di luar negeri.
Chameo merek tas inipun telah tampil dalam Japan Fashion Week 2011,Hongkong Fashion Week 2013 dan Pret a Porter di Perancis 2013 dan terakhir,model-model terbaru tas ini di pajang sebagai tren mode tas 2014 di majalah Italia,Arpel.
Kesuksesan dalam tas berbahan dasar rotan sintetis ini pun tak membuat Yuliana Lim berpuas diri. Yuliana pun tetap berinovasi dengan menggunakan bahan lain dari batik dan songket. Inovasi ini adalah hal penting agar konsumen tak bosan karena persaingan pasar begitu ketat maka berinovasi itu adalah hal yang wajib. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar